Tuesday, 3 February 2015

KONSPIRASI KEJATUHAN HARGA MINYAK



kredit:
zonalima com

zonalima-Ekonomi Rusia kini di ambang krisis besar, terkena pukulan penurunan harga minyak dunia dan juga sanksi Barat atas kasus Rusia-Ukrania. Dan itu bukan kebetulan. Banyak yang percaya AS di tengah situasi sulit yang dihadapi Rusia. Bahwa krisis saat ini adalah bagian dari sebuah rencana untuk mendorong perekonomian Rusia berantakan. Sejak bulan Juni tahun ini, harga minyak dunia telah hampir setengahnya, dari hargai $ US114 per barel pada bulan Juni dan pekan ini di bawah $ 60 pekan ini, seperti dilansir ‘dailytelegraph.co.au’, Kamis (18/12).
Rubel sebagian besar mengikuti harga minyak, dan kini nilai jatuh terendah dalam sejarah, 80,1 dolar AS awal pekan ini, meskip Bank Sentral Rusia sudah berupaya menghentikan aksi jual dengan menaikkan suku bunga. Hingga Bank Sentral memperingatkan, bahwa jika harga minyak tetap di bawah $ 60 per barel, ekonomi Rusia akan mengalami kontraksi hampir 5 persen tahun depan. Diperkirakan untuk setiap $ 10 jatuhnya harga minyak, PDB Rusia berkurang 2 persen.
Sementara itu, sanksi Barat atas keterlibatan Rusia di Ukraina telah mencegah pebisnis melakukan refinancing utang mereka di pasar modal asing, yang membuat mata uang jual untuk membayar utang sebelum perubahan nilai tidak bisa dilanjutkan. "Ini adalah situasi yang sangat berbahaya," kata editorial haris bisnia terkemuka Rusia, Vedomosti, Rabu (17/12). "Jika tidak mampu menenangkan pasar mata uang, berarti sistem perbankan kita membutuhkan perawatan darurat."
Vladimir Putin menyalahkan Barat atas krisis di Rusia saat ini, dan dia tidak sendirian. Banyak warga Rusia menyamakan situasi sekarang sebagai bagian dari "perang ekonomi". Beberapa komentator Barat pun setuju. Awal tahun ini misalnya, ketika minyak masih sekitar $ 88 per barel, kolumnis ‘New York Times’ Thomas L. Friedman langsung menunjuk jari tepat ke AS sebagai penyebab keruntuhan.
"Teori konspirasi" ini diterima secara luas di Rusia, bahwa AS dan Saudi Arabia berkolusi untuk menjaga produksi tetap tinggi dalam upaya mendorong penurunan harga minyak. "Hasil akhirnya telah membuat sulit Rusia dan Iran. Keduanya adalah lawan Saudi Arabia dan AS dalam perang proksi di Suriah," tulisnya. "Ini adalah bisnis, tapi juga memiliki nuansa perang dengan cara lain:. Minyak!"
Sama seperti yang mereka lakukan untuk para pemimpin terakhir Uni Soviet, AS dan Saudi Arabia mencoba "memompa mereka sampai mati", kata Friedman.
Catatan Friedman ini sebelum pertemuan OPEC November, ketika negara-negara OPEC gagal membujuk Saudi Arabia untuk memangkas produksi menahan penurunan harga karena psokan sudah demikian besar. Tapi penjelasan resmi setelah pertemuan adalah bahwa penurunan harga minyak akan merangsang permintaan China, Jepang, dan Jerman yang ekonominya sedang melambat.
Tapi tang terjadi adalah anjloknya harga minyak. Setelah pertemuan itu, minyak turun lebih dari $ 6 sampai $ 71,25 per barel, dan kemudian meluncur lebih rendah lagi sejak itu. "Apa alasan bagi AS dan sekutunya menurunkan harga minyak? Untuk menyakiti Rusia," kata Presiden Venezuela Nicolas Maduro kepada ‘Reuters’, sebelum pertemuan OPEC.
Awal bulan ini, Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengatakan turunnya harga minyak dunia adalah hasil "pengkhianatan", yang diarahkan jelas ke Saudi Arabia. Rouhani mengatakan pada pertemuan kabinet bahwa penurunan harga itu setidaknya sebagian "bermotif politik". Komentarnya mencerminkan kekuatiran Saudi Arabia akan mampu menahan kerugian pendapatan meski harga terus menurun, sementara ekonomi sesama anggota OPEC berantakan. "Iran tidak akan melupakan pengkhianatan terhadap kepentingan dunia Muslim," katanya lagi.
Teori lain yang juga berkembang adalah, bahwa Arab Saudi akan bersedia melakukan apa saja untuk mempertahankan pangsa pasarnya, karena mereka memiliki dana talangan hampir $ 890 miliar di bank, meski harga minyak turun lebih rendah lagi. "Ini lebih kompleks daripada mengatakan AS-Saudi Arabia bersekongkol menyakiti Rusia dan Iran," kata Dr Gorana Grgic dari University of Studies US Centre Sydney.
Menurutnya penurunan harga minyak adalah hasil dari "badai sempurna" faktor perlambatan ekonomi di China, Jepang dan Eropa, bersamaan dengan meningkatnya produksi minyak AS, dan penolakan Saudi Arabia memangkas produksi. "Ini merupakan konsekuensi menguntungkan dari penurunan harga minyak. Mereka ingin melemahkan Rusia dan Iran karena kedua negara memiliki harga relatif tinggi, tapi itu bukan motivasi utama," kata Grgic. Arie Tamba
- See more at: http://m.zonalima.com/artikel/1185/Konspirasi-Turunnya-Harga-Minyak/#sthash.TtBRAcmE.dpuf